Aku ??


Harus ku akui sulit untuk menghindarinya. Agaknya aku lelah juga dengan permainan yang kurunyamkan sendiri. Dulu dia begitu manis lagi cantik buatku. Dan hingga sekarang pun, perasaan itu tak berubah.

Tapi itu perasaanku! Bagaimana dengannya?

            HARI ini. Ia hadir laksana embun. Penyemangat pagi yang muram. tumbuhan yang ia naungi tak ubahnya teman. Dan hari ini ia benar-benar melakukannya padaku. Walau hampir dapat dipastikan, jika di kata cuma sebatang hidung sekalipun aku pasti menjumpainya tiap hari. Namun hari ini berbeda.

Aku bukan Arjuna dan kalian Tahu itu. Jauh dari spesifikasi minimum mirip Arjuna. Tapi aku menamai diriku Pujangga, pujangga yang telah lapuk termakan rayap.

Andai kalian tahu susahnya orang seperti aku ini menjalani kehidupan, apalagi melibatkan perasaan. Kecenderunganku yang pasif dan kurang agresif (Jika kalian mengenalku sebagai pribadi yang agresif, dalam hal cinta, aku amat lemah gemulai). Itu yang membuatku selama tiga perempat jatah usia yang ku defisitkan. Belum pernah yang namanya PACARAN.

Apa yang kurasakan hanya dapat aku curhatkan pada selembar kertas. Menkonvertnya menjadi kata-kata yang hanya aku sendiri yang paham (Jangan salah sangka teman, aku bukan sombong mengatakan tulisanku bernilai sastra tinggi sehingga hanya aku yang mampu memahaminya. Tetapi justru karena saking semrawutnya bahasa yang kugunakan menjadi penyebab mengapa hanya aku yang dapat memahaminya)

Dan di hari Senin 6 November 2017 ini. Adalah hari yang berbeda. Aku bertemu dengannya dengan tak kebetulan. Atau kebetulan.

Ceritanya begini. Siang hari, sekitar pukul 11.45, bel berbunyi. Semua mata pelajaran berhenti, siswi berhamburan menuju Mahalla di sekolah kami. Untuk laki-laki, ya biasa Lah. Lagi M alias Males.

Kelasku kebetulan berada di lantai dua dan berada tepat di depan tempat wudu. Begini ya, Mushalla sekolah kami tiga lantai. Lantai pertama untuk laki laki dan lantai kedua untuk perempuan. Nah di lantai kedua inilah terdapat tempat wudu tersendiri. Letaknya di depan pintu keluar kelasku. Ahh sudahlah kawan, jika tak paham baca saja terusannya. Sesungguhnya aku sendiri tidak mafhum dengan kata kataku.

Ketika aku hendak keluar, ia berada disitu. Mengapit di antara wanita-wanita yang dalam penglihatan seperti sampah. Fokus tatapanku terpaku padanya ( Hayoo siapa).
Sebenernya ada lagi sih. Tapi biarlah itu menjadi rahasia pribadiku. HAHH itu doang ceritanya, He hee maaf ni ya. Maaf buang waktu kalian.
Previous
Next Post »
Terima kasih atas komentar Anda