Bukan Cerita Dewasa


Malam minggu kemarin mungkin menjadi malam minggu terkelam dalam hidupku. Bagaimana tidak, disaat ribuan pemuda pemudi baik yang berkutang maupun yang kausan oblong sedang bersenang senang dengan rutinitas weekend mereka. Aku, si jones gersang malah meringik kesakitan sambil memegang es batu. Tau apa yang terjadi, go it .

Sabtu itu, hari memang agak terik lagi fana. Hal yang biasanya enak dilakukan kala begini mungkin adalah minum es dawet sambil bersantai ria di pantai Kuta, Bali. Sensasi elastisnya dawet akan berpadu kala melihat pemandangan yang ada. Percayalah kawan, di dunia ini tidak akan ada pemandangan yang lebih mengasyikan ketimbang kegiatan melihat woman Amerika, Slovakia, Brazil, Australia, dan bahkan dari Zimbabwe berkumpul di satu pantai untuk maen air. So amazing kan.

Di kelasku, AC seperti tidak berdaya. Ia kalah bertarung dengan partikel bara api pada setiap debu yang masuk. Hawa panas seperti ini pastinya sedikit banyak akan berpengaruh pada kegerahan dari masing-masing pihak. Seperti yang kurasakan kala itu, dua gerah kurasakan secara bersamaan. Yang pertama ada gerah batin (karena lihat dua orang pacaran sambil pegangan tangan. Orang yang gerah dikala situasi macam ini biasanya adalah tipe-tipe orang yang ndeso dan kampretnya aku termasuk dalam kategori itu). Kedua, yang kurasakan adalah gerah yang nyata, nyata untuk aku rasakan, gerah ini biasa disebut (Sumuk).

Karena kulihat situasi di sekeliling yang memperkenankan, aku pun membuka kancing seragamku. Awalnya, hanya satu dua kancing yang terlepas, tetapi seiring bertambahnya gerah yang kudapat. Semua kancing pun terlepas dari tempatnya. Tapi ini juga masih kurang, gerah masih mendekapku bagai tusukan belati. Dan pada keputusan terakhir, kulepas tubuhku dari telungkupan seragam. Menyisakan dalaman kaus oblong putih yang tipisnya bukan main,

Tidak kupikirkan resiko-resiko yang akan terjadi. Gerah telah membutakanku dari segala ancaman yang ada. Pada siang itu memang kebetulan sekali jam sedang kosong, jadi aku merasa bebas. Upsss ... tapi tidak sebebas yang kurasakan.

Anda kenal seseorang bernama Rafli ? , sebelumnya aku peringatkan, jangan sampai anda kenal dengan dia. Berhati hatilah, lari ketika anda kenalan dengan seseorang yang baru anda kenal dan ia menyebutkan Rafli sebagai namanya. Segera kabur atau jika kepepet, pukul saja dia dengan benda tumpul di sekitar kalian atau tusuk saja ia dengan pisau.

Aku sedang duduk bersama teman sebangku ku. Dikala kami sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Rafli datang,

“Hai Raf” Aku menyapanya

Dia membalas dengan senyum lalu bergabung dengan kami berdua. Wajahnya tampak mencurigakan, aku menduga sedang ada sesuatu yang ia rencanakan.

       “Rendy..” ia mendekatkan bibirnya ke telingaku ”Lu nyadar nggak kalo dari tadi pentil elu itu kelihatan”. Pelan ia berbisik.

       “Oh ya .. !!! “. Aku terkagum “Malah bagus dong”

       “Kolor lu swek, lu pikir pentil lu itu indah gitu”. Ia melengos

Mendengar kami yang bicara tentang masalah yang tidak lazim, Naufal, teman sebangku ku berceletuk “ Pentil kaya itu kok di bilang indah, bagiku itu nampak hitam”

Dengan kecepatan kilat, tangan Rafli dengan lincah bergerak. Menusuk ke arah Catty ku (Kunamai bagian itu demikian karena ia manis banget kayak kucing hitam peliharaanku), sontak aku berteriak, kapitan kuku-kuku Rafli menjepit pas di pentil ku. Hal itu tidak terjadi sekali saja, terhitung sepuluh jiwitan yang menancap ke catty ku. Dengan presetasenya delapan pas kena pentil, dan sisanya melengos ke bagian lain dari catty ku.

Hasilnya tidak langsung kurasa. Baru kusadari ketika tiba dirumah. Rasanya memar dan bengkak. Dengan hati-hati ku kompres si catty dengan es batu.

Sekian ceritaku. Mohon dimaafkan atas segala ketidak etisan kata yang aku pakai. Ini hanya sekedar catatan asli yang dibaluri campuran fiksi. 


Previous
Next Post »
Terima kasih atas komentar Anda