Naskah Pidato yang Kacau.


Puji syukur atas hadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan vitalitas kepada kita semua, hingga di pagi ini, di ruangan kecil ini, dengan ditemani dua AC yang begitu dingin. Kita dapat melaksanakan acara ini tanpa halangan yang teramat berat.

Shalawat serta salam pastinya senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, nabi agung Muhammad SAW yang begitu kita nanti-nantikan syafaatnya kelak di yaumul qiyamah.

Pada kesempatan pagi yang singkat ini, saya hanya ingin mengingatkan kepada teman teman perihal semangat, jujur, dan displin meraih kemerdekaan. Kita tau kita sudah merdeka dan kemerdekaan itu tentu tidak kita dapat semudah mengedipkan mata. Butuh pengorbanan yang tidak main-main, keluarga mereka tinggalkan, harta mereka singsihkan, nyawa mereka kesampingkan.

Tentu saja kita pun tau pihak musuh juga melakukan hal yang serupa. Tetapi yang mereka pertaruhkan tak sepadan dengan kita. Okelah, mereka punya senjata yang ribuan tingkat lebih canggih dari kita. Namun, kita punya beberapa nilai plus yang tak pernah dapat mereka rengkuh. Semangat Spartan yang menjuana menjadi kobaran api, kobaran yang stabil, hanya pada satu niat mulia, memerdekakan bangsa.

Semangat, kejujuran dan dispilin secara tidak langsung telah mendorong kita menuju kemerdekaan. Sudahlah sepatutnya hal itu menjadi contoh yang perlu diterapkan dalam menghadapi kerasnya hidup ini.

Mulailah dari hal kecil, dan lakukanlah terus menerus. Niscaya dapat  kita rengkuh kemerdekaan hakiki diri kita. Kemalasan bagai sepercik api yang membakar kertas putih. Membakar kebaikan kita hingga hanya menyisakan suiran partikel arang.

 Kebohongan bagai virus yang menggerogoti inangnya, yang pada akhirnya inang itu mati bersama dengan lenyapnya sang virus. Kebohongan hanya akan menghancurkan peradaban.


Satu hal yang belum kita singgung disini adalah perkara disiplin. Displin dalam berbagai aktivitas. Jangan biarkan kemalasan mendeklarasikan diri sebagai penguasa hati nurani kita. Jangan samapai kita sesetkan diri kita dalam ketidakteraturan. Dalam shalat saja, kita dituntut untuk disiplin waktu, dan Allah justru menghukum umat yang lalai dalam shalatnya.
Previous
Next Post »
Terima kasih atas komentar Anda