TOLAKANGIN-KU



Seperti hari hari yang lalu, Selasa ini memang tak jauh berbeda. Tapi sialnya, hari ini flu melandaku.

        Bukannya apa-apa ... Flu akan selalu mengganggu aktivitas kita, Virus kecil trengginas bernama influenza itu telah meyulap tenggorokanku menjadi kantong magma. Sesekali mulutku meletuskan magma itu, magma berwana kuning kental yang amat dingin tuk digenggam.
Bukan ... aku bukanlah manusia yang betah berlama lama dengan flu, untuk itu segala bantuan medis kukerahkan. Aku amat berhati hati dalam memilih obat, Dan pilihanku mendarat pada TOLAKANGIN. Aku adalah tipe orang yang tak percaya obat obatan berbahan kimia, mereka itu licik. Pertama mereka akan mengayomi kita, meyembuhkan kita, tetapi lihat 30 atau 40 tahun yang akan datang. Mereka kan datang sebagai momok baru bagi kehidupan tua yang harusnya dilalui dengan bahagia.

        Bodohnya, setelah minum satu sachet full compelety, aku mulai merasakan perutku mengerucut. Ususku bagai digoyang dengan musik K-POP. Awalnya, bisa kutahan rasa itu, walaupun akhirnya aku harus menyerah dari perang gerilya tersebut.

        Pak Awang, guru matematikaku tengah menjelaskan dengan serius. Sedang aku disini sedang bermuram durja pasrah akan keadaan. "Mules .... Mules".

Beruntung teman sebangkuku merasakan hal yang sama. Kuceritakan ya teman ........

        "Rendy ... rendy" Naufal memangggilku.

        "Kenapa ??? " Jawabku pendek, semua ini karena perutku yang sudah ingin meledakkan meriam kuning.

        "Aku Mules kok ndy .... Ayo ke kamar mandi !!!!"

Dengan jual mahal aku berkata "Masya Allah, kamu dirumah belum BAB ya ?

        "Halah ... BAB itu disekolah, daripada kita nanti telat"

        "Hahaha, bagi kamu sih gi___" kata kataku berhenti. Rasa mules tiba tiba menerkam-ku. Bagai sebilah belati yang membombardir habis isi perut. Naufal nanar melihatku, melihat anak SMP memegangi perut tanpa berkata kata.

        "Kenapa ndy .... Hamil ya ..." Tuduhnya langsung."Ayo lah ndy ke kamar mandi ..!!!!"
Aku langsung berdiri merengkuh satu buku di bekapanku, "Ya sudah ayo aku temani deh ...". padahal, aku sendiri pun udah pengen brojolan.

        "Kok bawa buku" tanyanya ragu

Aku segera menggandeng tangannya, minta izin ke guru dan ngacir ke kamar mandi.
Di kamar mandi itulah aku tergapar lesu, literan air mengucur dari duburku, aku mencret guys. Aku sampai puluhan kali cebok, pantatku rasanya memar memar. Beruntung aku masih sanggup duduk.



Previous
Next Post »
Terima kasih atas komentar Anda