Guratan Rindu Ras Awan



 - Dalam hitungan bulan, tiba tiba semuanya lenyap.
- Tinggal kenangan yang pilu bila diingat
- Dalam hitungan bulan, hidupku menorehkan tinta lain
- Garis takdir lah yang berbicara

                      - Bagiku ... Itu bukanlah masa lalu
                      - Sungguh ... Tak ada masa lalu di segenap eritrosit darah ku.

     Sebulan berlalu, tak akan pernah kulupa embun pemupus dahaga yang amat riang di ekamatra lain. Dia masih disana, statis tetapi menggasak kesadaranku kalap. Angin barat yang sekian lama singgah di tubuhku, sekonyong-konyong merajam empedu di ribuan noktah, desusnya amat kencang membawa huru hara (2017)

     Untaian makna dalam setiap relung kehidupan. Gesekan kecil manusiawi bila terjadi. Jangan sampai perasaan kita dahaga karena kobaran jingga di tungku asmara. Ukiran eksotis rembulan sendu menghiasi gerhana jiwa. Deretan peristiwa mengkontaminasinya. Balutan kasihku telah dicuri. Bayangan maha karya tuhan yang mendominasi bantaran hatiku belakangan ini, telah hilang. Durjana aku dibuatnya. Kemanakah guratan partikel asmara ini bermuara. Kupercayakan dilema ini kepadamu, Tuhan. Kini aku tidak memungkirinya. Deklit cakrawala menyitirku menjadi pengemis cinta. (Guratan Rindu Ras Awan, 2016)

Previous
Next Post »
Terima kasih atas komentar Anda