Cerpen Kehidupan : Negotiations Shock

Cerpen Kehidupan :
Download PDF : Mediafire

Negotiations Sock


<Legend>
Hari ini masih petang, jam masih menunjukan angka genap terkecilnya, 2. Mbok Darwi sudah bangun dengan beberapa pekerjaan yang sudah menantinya. Mbok Darwi adalah janda berusia 85 tahun yang hingga kini masih memikul beban seorang cucu, Hindun. Namun, bagi dia itu bukanlah suatu beban, ia tetap berjuang keras memenuhi kebutuhan hidupnya, Ia harus bangun fajar untuk mengumpulkan kayu bakar untuk dijual ke Pak Jaya (Pemilik pabrik tahu), hal itu dilakukannya demi mengisi saku cucunya dengan uang. Jikalau pagi menjelang ia mulai bersiap siap dengan cangkulnya untuk pergi ke sawah Pak Karyo ( Sebelum tersambar petir ). Hal itu dilakukannya terus menerus sepanjang hari dengan ikhlas dan tanpa keluh kesah sepicing biji jeruk sekalipun.

Hingga kabar tidak mengenakkan datang, Pak Karyo dikabarkan tersambar petir. Hal itu tentu mengguncang jiwa dan perasaan Mbok Darwi. Bukan apa-apa, ia sangat menggantungkan hidupnya pada pak Karyo dan itu sudah terjadi bertahun tahun. Namun, sisi positifnya warga menyarankan mbok Darwi lah yang berhak mengurus lahan pak Karyo itu, selain karena mubadzir jika tidak ada yang mengurus, menurut warga Pak Karyo telah menganggap mbok Darwi sebagai istrinya sendiri.


Ternyata menggarap sawah bukan menjadi hal yang mudah bagi mbok Darwi, ia membutuhkan biaya untuk membeli pestisida dan beberapa benih padi untuk ditanam. Apalagi cucunya si Hindun, ia sama sekali tak peduli dengan perjuangan simbahnya dan yang terlontar dari mulutnya hanya keluh kesah saja.

<Nasib atau Keajaiban>



Minggu, mbok Darwi mengajak cucunya untuk membantunya di sawah, meskipun dengan wajah tidak ikhlas Hindun menuruti permintaan simbahnya itu. Di sawah cucunya hanya duduk melihati simbahnya mencangkul tanah (untuk ditanami benih padi) sambil memakan pisang di bawah teduhnya tanah liat yang disangga oleh kerangka kubus (semacam gubuk). Tentu hal itu bukanlah suatu yang diharapkan Mbok Darwi, hingga !!!! Aaaaaaaahhhhhhkkk. Cucunya yang sedang berbaring kaget, dengan santai ia berkata “ Ada apa sih mbok ”, tak ada sepucuk kata pun yang didengarnya. Dengan rasa malas ia bangun dan turun dari gubuk itu, matanya yang masih silau perlahan normal dan ……
Maaak !!!!!! Ia lari dengan linangan air mata, sampai di TKP ia hanya dapat melihat dengan gemetaran, melihat 4 jari kaki mbok Darwi hilang. Tampaknya otak manusia memang hanya bekerja ketika terekan, remaja pemalas itu dengan sigapnya mengambil pelepah pisang dan menyobek baju miliknya untuk menutupi darah yang sedari tadi terus mengucur bagai air mancur. Ia menggotong Mbok Darwi hingga ke rumahnya.



Seminggu setelah kejadian itu emak masih tidak bisa berjalan secara normal, di usia senjanya wajar jika luka macam itu membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh. Selama seminggu itu Hindunlah yang menjadi tulang punggung, ia hanya dapat bekerja sampingan sebagai kuli angkat batu.

Kini setahun sudah, emak sudah dapat berjalan walaupun masih tertatih tatih. Sifat asal Hindun mulai Nampak lagi. Bualan basinya terus terucap sepanjang hari……

“Mak” kata hindun

“Ada apa nak”

“Kakinya kan sudah sembuh, jangan sok sakit sakitan deh” katanya dengan nada cepat dan tinggi

“Iya nak, ini emak mau ke sawah”

“Percuma mak !!! buat apa ke sawah !!! gak ada hasilnya” Saut Hindun cepat

Emak hanya terdiam mendengar hal itu

“Atau Hindun pergi saja”

“Jangan Ndun … Emak sudah merawat kamu dari kecil dan udah nganggap kamu itu anak sendiri” saut mbok Darwi sabar.


“Merawat itu memang sudah menjadi kewajiban Emak dan hak Hindun mak …… Hindun juga besok punya anak yang harus Hindun rawat” saut Hindun
           
Setelah hal itu Hindun pergi bekerja, perkataan Hindun masih terngiang di kalbu Mbok Darwi. Ia pun mencoba berjalan ke sawahnya. Tiba di sawah rumput-rumput liar tampak menutup wajah si tanah. Namun ada satu batang kayu berdiri agak tinggi yang menarik perhatian emak, setelah digalinya ditemukan sebuah kotak kecil dari kayu berisikan uang dan sepucuk surat.

“ Jikalau hidupku sampai disini, aku ingin orang yang pertama melihat ini adalah sahabatku Darwi. Aku ingin menyusul istriku di surga, ini satu satunya harta yang kupunya hasil tabunganku setiap hari, semoga lebih bermanfaat untukmu. Oh ya Darwi, jaga sawahku ini untukku, galilah lubang di sebelah kau temukan surat ini, ada beberapa pupuk dan obat juga kusiapkan karena firasatku ini”

Namun mendung tiba tiba menerkam, hujan deras memperkeanalkan diri tanpa tanpa intro yang baik. Sama seperti nasib Karyo ia tersambar petir, tetapi bukan di dadanya karena itu akan sangat mengerikan, ia tersambar tepat di kepalanya. Hindun yang sedang memikul batu tiba tiba kejatuhan crane yang membuat tubuhnya terbelah menjadi dua.

Previous
This is the oldest page
Terima kasih atas komentar Anda